1.
Jumat lalu, 7 Agustus 2009, tiba-tiba saja Pemred saya di rumahfilm.org, Krisnadi, kesambet ingin datang ke pemakaman Rendra di rumahnya, di Citayam, Bogor. Saya juga ikut kesambet, menjatuhkan semua janji, dan mengiyakan.
Untung Kris bawa mobil. Saya pikir mah, dia pernah ke padepokan Rendra. Lha, tak tahunya dia tak pernah, hanya berpatokan pokoknya dari Depok lurus saja ke arah Bojong Gede. Tapi, kami memang biasa sih berjalan tanpa arah yang jelas begitu. Seringkali sampai juga. Dalam kasus menuju padepokan Rendra itu, arah pasti kami dapatkan dari sumber yang agak tak terduga.
Sepanjang jalan, Kris berusaha menelepon atau ber-SMS kepada teman-teman wartawannya, bertanya di mana alamat Rendra. Tak ada yang menyahut. Sampai tiba kami di sebuah pom bensin di daerah dekat Citayam. Mampir ke WC, beli makanan kecil untuk pengganjal perut (kami sama-sama belum sarapan dan makan siang), menyerap siang yang sungguh tebal panasnya.
Di depan mobil kami, ada penjual es buah ”asli Cirebon”. Saya iseng bertanya kepada si abang penjual es buah. Agak skeptis, sebetulnya. Sudah beberapa menit berlalu, dan kami tak sekalipun terpikir untuk bertanya pada tukang es buah di hadapan kami. Soalnya, kami agak-agak membayangkan bahwa budayawan macam Rendra tentu agak jauh dari hidup keseharian wong cilik yang ia bela. Bukan salah Rendra lah, menurut saya, kalau keadaannya begitu. Ya memang itu sekadar keadaan –Rendra sendiri kan pernah menulis, bahwa cendekiawan (termasuk, seniman dan budayawan) ”berumah di atas angin”.
Eh, malah tukang buah itu memberi keterangan yang sangat jelas, di mana rumah Rendra. Wah, saya harus telan itu prasangka. Kami segera ke sana. Waktu salat Jumat sudah lewat, jadi, agaknya kami akan luput turut menyalatkan Rendra. Di jalan, kami berpapasan dengan iring-iringan mobil pejabat. Nah, pikir kami, kami berada di jalan yang benar.
2.
Banyak sekali orang. Wartawan. Seniman. Pejabat. Pengamat politik Juga, ibu-ibu pengajian. Anak-anak kampung sekitar, beberapa masih berseragam sekolah atau pramuka. Bapak-bapak berbaju koko. Dan, ya, keluarga. Sanak. Kerabat. Berapa banyak orang yang pernah ditampung, dihidupi, oleh Rendra di Bengkel Teater-nya –sejak sebelum berpadepokan di lepas-Depok itu?
Ketika Kris dan saya tiba di dekat persemayaman jenazah, seorang perempuan berjilbab memegang mike, dan bercerita dengan gaya deklamasi, betapa ia kehilangan Rendra. Ia tak akan bisa melupakan Rendra, karena Rendra ”telah membantu saya lulus S-1.” Ia bercerita, betapa waktu itu ia datang akan mewawancara Rendra untuk skripsinya yang membahas sajak-sajak protes Rendra. Kebetulan, Rendra baru pulang pukul 12-an malam. Tapi, karena Rendra telah berjanji memberi wawancara, maka sang penyair yang telah sepuh itu masih meladeni, sampai subuh. Barangkali banyak sekali kejadian serupa, pikir saya. Betapa banyak amal jariyah Rendra.
Emha Ainun Najib memimpin upacara pelepasan. Sitoresmi, mantan istri Rendra yang kedua, meminta agar jenazah disegerakan untuk dikubur. Tapi, sebelumnya, Emha menyerahkan mike kepada Buya Ahmad Syafii Maarif (mantan ketua umum Muhammadiyah, dan seorang guru bangsa di mata saya) memberi ucapan pelepasan.
Dengan kearifan seorang yang matang oleh usia, dengan suara lembut, buya memulai dengan nasihat bahwa kematian adalah misteri bagi manusia. Lalu ia bicara Rendra, hidupnya yang membekas pada Indonesia. Yang terpenting, buya mengingatkan bahwa “yang menangis hari ini bukan hanya Indonesia, tapi dunia. Sebab, Rendra adalah milik dunia. Ia telah memberi pada dunia.”
Setelah buya, sebetulnya jenazah akan segera diangkat ke lokasi lahat. Tapi, tiba-tiba, Emha melihat sahabat dekat (sekaligus saingan penyair) Rendra, Sutardjie Calzoum Bachri, dan meminta Tardji mendekat serta memberi kata perpisahannya.
Dan Tardjie adalah Tardjie. Dengan suara serak dan nada terburu, ia menyampaikan: Rendra adalah persilangan Orang Besar dan Karya Besar. Banyak Orang Besar tapi tak menghasilkan Karya Besar. Banyak yang menghasilkan Karya Besar, tapi ia bukan Orang Besar... Saya tak kehilangan Rendra. Ia telah menghasilkan karya-karya besar ...yang selalu akan dibaca, dibaca-ulang, ditafsir, ditafsir-ulang, berkali-kali.... Tapi, saya kehilangan seorang Besar yang memberi teladan, yang bisa dilihat, disapa, disentuh....
3.
Ketika Emha mengucap tahlil untuk mengiringi jenazah Rendra dibawa ke liang lahat, dan ketika jenazahnya dikuburkan, maka ramailah mengiringi para ibu-ibu pengajian yang (bisa diduga) berasal dari kampung sekitar.
Laa Ilaha Illallah... Laa Ilaha Illallah...
Para seniman, pejabat, pengamat, pesohor, orang media yang datang itu kebanyakan tak ikut menggumamkan tahlil. Mungkin karena tak bisa, tak biasa, atau mahzab fikih yang berbeda –entahlah Saya terkesan.
Rendra memang benar dekat dengan ”orang-orang kecil”. Ada seniman-seniman perlente yang datang dari jauh, ke pemakaman/padepokan itu. Mereka tampak jauh sekali –dari segi ”kostum” dan bahasa tubuh mereka– dari para wong cilik itu, tampak ganjil saat berdesakan dengan mereka. Saya tak sedang menyalahkan atau membenci siapa-siapa. Saya sedang menghargai perjalanan hidup Rendra, dari dunia bangsawan Jawa hingga membangun dunianya sendiri di sebuah kampung di Cipayung, di tepian Jakarta, di Bogor.
Rendra dimakamkan di tengah padepokannya yang seluas 2,5 hektare, di antara kebun buah-buahan, sekitar 300 meteran dari rumah Lampung tempatnya berdiam, juga beberapa paviliun tempat tinggal para ”cantrik” Rendra. Padepokan itu tak terpisah dari kampung sekitar. Jalan masuknya tak bergerbang khusus, tapi seperti gang masuk kampung atau kebun luas biasa. Di kanan-kiri gang itu ada rumah-rumah penduduk.
Sebelum ke sana, saya membaca gambaran dunia itu dalam sebuah tulisan Candra Malik yang bagus. Saya segera merasa, terang saja prosesi pemakaman Rendra dihadiri para ibu dan bapak dari kampung sekitarnya. Padepokan Rendra, atas kelola sang istri, Ken Zuraida, sering bagi-bagi beras ke penduduk sekitar dan kadang (”kalau sedang ada rezeki,” kata Rendra) bagi-bagi minyak juga.
Ya, kata Krisnadi, banyak seniman bicara tentang rakyat kecil ...tapi hidup mereka sungguh asing dari subjek yang mereka bicarakan itu. Rendra, tidak. Ada beberapa seniman lain juga tidak asing dengan ”rakyat” yang sering mereka bicarakan. Tapi, tak banyak, memang, orang yang sebesar Rendra.
Saya merasakan ada semacam sinis yang mencuat di masyarakat kita, bahwa kita tak lagi butuh “Orang Besar”. Barangkali ada semacam kelelahan akibat kecewa bertubi-tubi, melihat para tokoh kita begitu mengecewakan dalam kiprah mereka, terutama sejak era Reformasi? Barangkali keadaan sosial-ekonomi-budaya kita memang sedang mengalami pembusukan, sehingga kita gagal melihat hal-hal baik dan bajik di sekitar kita? Ataukah karena ”pabrik Orang Besar” telah tutup?
Dan, saya merasa kita sedang hidup dalam dunia jungkir balik. Ketika Mbah Surip meninggal, Presiden SBY bersegera membuat konferensi pers tentang itu. Ketika Rendra meninggal tak lama kemudian, SBY sama sekali tak mengadakan konferensi pers tentang itu. Ia hanya menyampaikan belasungkawa lewat Hatta Rajasa. Dan, rasanya, tak mungkin SBY tak ngeh tentang kematian dan kebesaran Rendra. Budiono, cawapres terpilih pendamping SBY, adalah bagian dari lingkungan pergaulan Rendra di Yogyakarta dulu, sehingga ia menyempatkan diri datang melayat ke Cipayung.
(Saya jadi berprasangka, apa gara-gara minggu sebelumnya, Rendra masih sempat-sempatnya mengkritik keras SBY, yang dianggap tak serius menangani korupsi? Kalau bukan, kenapa dong menganggap Mbah Surip lebih penting dari Rendra?)
Tapi, saya jadi menemukan satu ukuran lain tentang kebesaran seseorang. Rendra menjadi besar karena mau menghargai siapa saja, menghargai para wong cilik atau seorang gadis muda yang ingin menulis skripsi S-1. Sedang kita menjadi kerdil karena tak mampu menghargai orang sebesar Rendra sepantasnya. Boro-boro bisa menghargai Orang Kecil, kalau Orang Besar pun luput kita hargai? ***
PS: selalu yang terlintas dalam benak saya di hari-hari ini adalah suara Rendra membacakan Disebabkan Oleh Angin pada 1990-an, dengan lincah, prima, total.